Mempunyai Mimpi yang Besar Memang Harus Rela Berkorban

Beberapa saat yang lalu saya membuka halaman utama facebook dan melihat beberapa timeline teman-teman saya. Ada salah satu timeline milik teman saya yang sangat menarik. Dia mengembed video yang mungkin kalau orang awam bilang video yang tidak jelas. Video tersebut berasal dari Cina dan telah ditranslasikan oleh relawan.

Setelah ditonton, terlepas dari kualitasnya yang jelek namun mempunyai arti yang bermakna. Jadi intinya menceritakan sepasang suami istri yang mempunyai mimpi besar dan berhasil masuk pada salah satu acara terbesar di Cina tentang perwujudan mimpi.

Ceritanya seorang istri ini mempunyai penyakit tumor stadium 4 yang sudah parah dengan beberapa harapan hidup yang sangat kecil. Lantas sang suami tetap setia bersama sang istri dan malahan melayani sang istri seperti memijatnya, mencucikan kakinya, dan sebagainya. Sehari-harinya sang suami berprofesi sebagai tukang pos, sedangkan istrinya hanya ibu rumah tangga biasa. Akibat penyakitnya tersebut, penglihatan istri sudah tidak terlalu jelas lagi. Walau mendapat vonis dengan kesempatan hidup yang sangat kecil, mereka tetap semangat dalam menjalani hidup.

Mohon maaf, kalau diceritakan semuanya jadi tidak seru lagi. Namun pada intinya, jika kita mempunyai mimpi yang besar, capailah mimpi itu tidak peduli kata orang. Walau orang lain sudah men-judge kita tidak bisa ini itu, tapi yang namanya takdir dan nasib ada di tangan kita masing-masing, bukan di tangan orang yang men-judge.

link video ada di sini. Pastikan kamu mempunyai quicktime player atau jika dimintai piliham di bagian atas browser, silahkan pilih Yes.

Start-Up: Jadi Orang Jangan Sukses, Tapi Bermanfaat!



Pada tanggal 29 April 2014 saya mengikuti sebuah seminar tentang sebuah Start-up. Secara eksklusif CEO ini datang jauh-jauh untuk menyempatkan beberapa pemaparan kata demi kata tentang pentingnya sebuah start-up. Menurutnya Yansen, suksesnya seseorang itu tergantung mindset dirinya.

Kebanyakan orang pasti bakal meraih kesuksesan dengan gigih dan berusaha. Tapi jika didefinisikan, sukses itu ternyata hanya bersifat individual. Salah satu faktor kegagalan Indonesia yaitu membuat orang sukses. Ia sukses, sekolah di luar kerja di luar lalu pulang lagi jadi orang biasa lagi. Kata CEO Kibar, Yansen, seseorang harus menempatkan dirinya menjadi bermanfaat terlebih dahulu untuk mencapai kesuksesan, menaburi kebaikan di sosial.

Penjelasan pada persentasinya, Yansen mengatakan di Indonesia sendiri itu sudah banyak sekali masalah. Namun kita harus memposisikan diri kita bagaimana kita memanfaatkan peluang tersebut. Jika diamati, banyak sekali peluang yang dapat diambil agar berguna bagi sosial. Secara otomatis yang namanya rezeki pasti akan mengikuti. Sudah mendapatkan pahala, kemudian mendapatkan uang pula.

Penjelasan Yansen Kamto tentang seminar start-up tentu membuat kita termotivasi. Dulu saya berpikir untuk membiarkan Indonesia yang semakin banyak sekali masalah. Namun kini, saya punya goal lagi. Menyampingkan mataril, namun fokus membuat inovasi dalam menyelesaikan berbagai masalah, dampaknya dalam masyarakat serta membuat kehidupan lebih baik dari sebelumnya.

Thanks ko Yansen, you have my gratitude. Oleh karena itu, jangan jadi sukses, namun bermanfaat!